Blog Ini Berisi Tentang Pembelajaran, Tips, Software, Aplikasi Android, Hiburan Dan Masih Banyak Lagi Seputar Tentang Dunia IT, Membahas Tuntas Dari Segala Pokok Permasalahan Yang Ada.

AMAN

Showing posts with label Filsafat Pendidikan Islam. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Pendidikan Islam. Show all posts

Thursday, March 9, 2017

Filsafat Pendidikan Pesantren

FILSAFAT PENDIDIKAN PESANTREN


Abdulrahman wahid atau yang di sebut gus dur menjelaskan bahwasannya konsep apapun tentang pesantren , sebenarnya bukan pekerjaan ynag mudah . terlebih dahulu yang harus di ingat adalah adanya suatu keyakinan bahwa tidak ada konsep yang mutlak rasional untuk dapat di terapkan di pesantren.
A.    Pengertian Pondok Pesantren
Zamakhsyari dhofir , menjelaskan bahwa perkataan awalnya pe dan akhirnya an berarti tepat tinggal para santri dan istilah santri berasal dari bahasa tamil yang berarti guru mengaji.
Kafrawi , pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama islam yang pada umumnnya pendidikan dan pengajarannya tersebut di berikan dengan non klasikal (sitem bondongan dan sorongan ) di mana seorang kiyai mengajarkan santrinya berdasarkan kitab  - kitab yang di tulis dalam bahasa arab oleh ulama ulama abad pertengahan , sedangkan para santri santri wati biyasannya tinggal di pondok atau pesantren .
B.     Pertumbuhan Dan Perkembangan Pondok Pesantren
1.      Masa kolonisme dan sebelumnya
Pesantren berdiri sejak berdinya adanya walisongo , syekh maulana malik atau yang di sebut  dengan syeikh maghribi di anggap sebagai pendiri pesantren pertama kali di jawa tengah . syekh maulana malik dalam mendirikan pesantren tidak mengalami kesulitan karena sebelumnya sudah ada perguruan hindu dan budha dengan sistem biara atau asrama sebagai tempat pendeta atau biksu untuk mengajar dan belajar , sehingga pada masa islam , asrama dan biara itu tidak berubah bentuk , hanya namannya saja yang berubah menjadi pondok pesantren .
Dalam perkembangan selanjutnya pesantren ini mendapatkan perhatian dari para sultan . sesuai dengan kedudukan tinggi para wali di mata sultan , tidak sedikit pesantren yang mendapat perhatian dan bantuan.  Berikut ini jumlah pesantren dan madarasah , ulama dan pelajar :

jakarta
jabar
jateng
jatim
Pesantren dan madarasah
167
1.046
351
307
ulama

7.652
4.466
6.150
pelajar
14.573
69.594
21.957
32.931

2.      Pasca kemerdekaan
Perkembangan sistem pendidikan nasional , berpengaruh sangat kuat terhadap pertumbuhan dan perkembangan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan , gejala sangat terlihat jelas dengan semakin banyaknya pesantren yang mendirikan madarasah dengan kurikulum campuran dan juga mengadopsi sekolah model barat ke dalam pesantren . pesntren sebagai lembaga pendidikan dan sosial tumbuh dan berkembang di pelosok desa maupun di  perkotaan.
3.      Unsur unsur pondok pesantren
Berdirinya sebuah pondok pesantren bermula dari sorang kyai yang menetap pada suatu tempat , kemungkinan datanglah santri yang ingin belajar kepadannya dan turut pula bermukim di rumah kyai , karena banyak santri  yang datang , mereka mendirikan pondok di sekitar rumah kyai atau masjid.
Menurut mukti ali pesantren memiliki 4 komponen yakni :
1.      Kyai sebagai pengajar atau mendidik
2.      Santri yang belajar dari kyai
3.      Masjid tempat untuk menyelenggarakan pendidikan
4.      Pondok , tempat tinggal para santri.
Klasifikasi pondok pesantren
Manfred ziemek mengklasifikasikan pesantren menjadi lima tipe yakni :
1.      Pesantren jenis A yakni pesantren yang hanya terdiri dari unsur masjid dan rumah kyai.
2.      Pesantren jenis B yaitu pesantren yang memiliki masjid , rumah kyai dan pondok .
3.      Pesantren C ialah pesantren yang terdiri dari masjid , rumah kyai , asrama atau pondok dan madarasah.
4.      Pesantren jenis D adalah pesantren yang  sudah terdiri dari unsur yaitu majid , rumah kyai , asrama , madarasah di tambah pendidikan ketrampilan , program pertanian dan lain – lain.
5.      Pesantren jenis E yaitu pesantren jenis modern , yang terdiri dari beberapa  elemen  yaitu masjid , rumah kyai , pondok , madarasah dan universitas.
4. Peran pendidikan pondok pesantren dalam sisdikna
Pendidikan bagi umata adalah merupakan kebutuhan yang hakikat yang harus di penuhi , pendidikan di pondok pesantren , keunggulannya pendidikan keimanan dan akhlaq , di samping aspek yang tercakup dalam lingkup pendidikan pesantren . denganmemperhatikan tujuan pendidikan pondok pesantren menempati posisi yang sangat penting dan tak dapat di pisahkan dalam membangun manusia indonesia seutuhnnya.
5. karakter pesantren di tengah dinamika zaman
Abdurahman wahid menjelaskan bahwa dinamisasi pada asasnya mencakup dua buah proses yaitu penggalakan kembali nilai nilai hidup positif yang telah ada , di samping mencakup pula penggantian nilai nilai lama dengan nilai nilai yang baru yang di anggap lebih sempurna , proses penggantian nilai itu dinamakan modernisasi.

Menurut nurcholis , modernisasi adalah rasionalisasi dan bukan westernisasi , kaitannya dengan sistem pendidikan pesantren adalah upaya menggalakan nilai nilai hidup yang terdapat dalam sistem pendidikan pesantren dan menggantikan nilai nilai lama kurang relevan dengan perkembangan zaman dengan nilai nilai yang lebih baik.
Mukti ali meyebutkan bahwa bebrapa ciri ciri pendidikan pesantren , sebagai berikut:
1. Adanya hubungan yang akrab antara para santri dan kyai
2. Tunduknya santri pada kyai
3. Hidup hemat dan sederhana benar- benar di praktekkan di pesantren
4. Semangat menolong diri sendiri amat terasa dan kentara di kalangan santri.
5. Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan sangat mewarnai pergaulan di pesantren.

Alex inkeles dan david h . smith mengemukakan ciri – ciri masyarakat modern , sebagai masyarakat yang memiliki :
1.      Sifat terbuka terhadap pengalaman baru .
2.      Kesiapan terhadap perubahan sosial
3.      Kesadaran akan dannya keanekaragaman sikap dan tingkah laku serta pendapat pendapat orang di sekililing dan suatu peraturan untuk membentuk atau berpegangan pada pandangan sendiri.
4.      Sikap yang bergerak untuk mencari fakta dan bahan bahan penerangan untuk di jadikan dasar pandangan sendiri.
5.      Berorientasi pada masa mendatang dari pada terhadap masa lampau.

6. Pesantren Alternatif Pendidikan Masa Depan
Seiring berkebang nya ilmu pendidikan dan teknologi , dan kerinduan masyarakat moderen terhadap nilai ketuhanan , masyarakat membutuhkan lembaga pendidikan yang mampu merespon kemajuan IPTEK dan sekaligus mampu memenuhi kebutuhan religius.

Pondok pesantren integratif - inovatif  , yaitu sebuah lembaga pendidikan pesantren yang integral dan komprehensif serta antisipatif terhadap tuntutan masyarakat masa mendatang . pondok pesantren yang tidak hanya menekankan oada penguasaan ilmu ilmu agama dan pembentukan mental religius , tetapi jga diorientasikan untuk menguasai sains – sains keduniaan , kedua aspek itu di intregrasikan secara inovatif futuristik.


Sumber        : Buku Filsafat Pendidikan Islam
Pengarang    : Dr. Mahfud Junaedi,M.Ag
Deskripsi     : Ringkasan Filsafat Pendidikan Islam
Share:

Aspek Pendidikan Islam


BEBERAPA ASPEK PENDIDIKAN ISLAM

A.    Hakikat Pendidikan Islam.
Pendidikan adalah sebuah keharusan dalam kehidupan manusia, education as a necessity of life, Menurut Dewey pendidikan adalah:”social continuity of life”pendidikan  merupakan proses pembaharuan keseluruhan struktur budaya,dan pengertian kedua memberikan pengertian bahwa pendidikan adalah proses yang mana keterampilan,seni dan ilmu pengetahuan dipelihara dan dikembangkan.
Hasan Langgulun pendidikan dapat dilihat dari tiga segi yaitu: Dari sudut Individu, pendidiksn adalah proses menampakkan (manifest) yang tersembunyi (latent) pada anak-anak.
Abdurrahman al-Banni dalam Madkhal Illa al-Tarbiyah, berpendapat bahwa pendidikan terdiri dari 4 unsur yaitu:
1. Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa
2.mengmbangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam
3.mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya
4.proses dilaksanakannya bertahap.

             Dalam bidang pertumbuhn akal (intelektual) pendidikan dapat menolong individu untuk meningkatkan, mengembangkan dan menumbuhkan kesedihan, bakat minat dan kemampuan akal yang dibutuhkan dalam hidupnya.
            Dalam bidang pertumbuhan Psilologis, pendidikan dpat menolong individu-individu mendidik dan menghaluskan perasaannya dan mengarahkannya kea rah kebaikan.
            Dalam bidang pertumbuhan spiritual dan moral, pendidikan yang baik dapat menolong individu menguatkan iman, akidah dan pengetahuan terhadap tuhannya , hukum-hukum, ajaran-ajaran dan moral agamanya.
Dalam pertumbuhan sosial Individu pendidikan memainkan peran utama dalam penyiapan kehidupan sosial individu yang berhasil dan produktif. Disamping itu pendidikan juga menolong dalam pertumbuhan masyarakat dari segi ekonomi, sosial budaya, spiritual dan politik.
B.     Asas-Asas Pendidikan Islam
Menurut Langgulung, pendidikan mempunyai asas-asas tempat ia tegak dalam materi, interaksi, inovasi dan cita-citanya. Asas asas tersebut adalah : Asas-asas historis yang mempersiapi si pendidik sengan hasil pengalaman masa lalu, dengan undang-undang dan peraturan-peraturannya ,batas-batas dan kekurangan-kekurangannya. Asas-asas sosial yang memberinya kerangka budaya dari mana bertolak dan bergerak:memindah budaya , memilih dan mengembangkannya.
Filsafat sebagai asas dalam pendidikan menempati posisi sentral dibanding dengan asas-asas lainnya.Filsafat pendidikan mempunyai beberapa fungsi yaitu:
1.      Fungsi spekulatif, yaitu: berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan mencoba memasukkannya dalam satu gambaran pokok sebagai pelengkap bagi data-data yang telah ada dari segi ilmiah.
2.      Fungsi Normatif, yaitu: filsafat sebagai penentu arah, pedoman untuk apa pendidikan itu. Asas ini tersimpul dalam tujuan pendidikan, jenis masyarakat apa yang ideal untuk di bina.
3.      Fungsi kritik, yaitu: berusaha member dasar bagi pengertian kritis rasional dalam pertimbangan dan menafsirkan data-data ilmiah
Fungsi teori bagi praktek yaitu: semua ide, konsepsi, analisa dan kesimpiulan-kesimpulan filsafat dan teori. Fungsi Integratif, yaitu: filsafat sebagai pemandu fungsional semua nilai dan asas normatif dalam ilmu pendidikan.
An-Nahlawi menampilkan tiga asas pendidikan islamnya, yaitu: Asas ideal yang mencakup pandangan Islam tentang manusia, alam dan kehidupan. Asas Ta’abbudiyah, dan Asas Tasyri’.  An-Nahlawi dalam merumuskan konsep asas-asas pendidikan Islam terkait erat secara langsung dengan ajaran normative agama islam, sedangkan Hasan lunggulung sangat memperhatikan pendidikan Islam dan pengetahuan lainnya dengan tetap mendudukkan ajaran islam sebagai sumber rujukan.
C.    Tujuan Pendidikan Islam
Secara definitif dapat di jelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah : perubahan yang diinginkan, yang diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya , baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya atau pada kehidupan masyarakat dan pada alam sekitar.
Tujuan pendidikan sangat terkait dengan nilai karena pendidikan mengandung pilihan ini sudah tentu berkaitan rapat dengan nilai-nilai
Menurut Mohd Labib el Najihy, nilai-nilai yang menjadi dasar tujuan pendidikan yaitu membimbing proses pendidikan berbeda dalam jenisnya,
Tujuan pendidikan islam di bagi kedalam 3 kategori yaitu:
(1) Tujuan Umum yaitu: perubahan-perubahan yang dikehendaki, yang dikehendaki pendidik untuk mencapainya.
(2) Tujuan khusus yaitu: perubahan-perubahan yang diinginkan yang merupakan bagian yang termasuk dibawah tiap tujuan umum pendidikan. Tujuan ini mwrupakan realisasi dari pengetahuan, keterampilan, pola-pola tingkah laku, sikap, nilai-nilai dan kebiasaan yang terkandung dalam tujuan akhir dan umum.
(3)Tujuan akhirTujuan ini tidak terbatas pada suatu lembaga pendidikan tertentu, tujuan ini memiliki jangkauan yang sangat jauh sehingga rumusannya sangat terlihat abstrak dan tidak normal.

D.    Guru Dalam Pendidikan Islam
Kata guru berasal dari bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar, dalam bahasa inggris teacher yang berarti pengajar. Sedangkan dalam bahasa Arab istilah yang menunjuk kepada pengertian guru lebih banyak lagi, seperti al ‘alim (jamak ulama) atau al-mu’alim yang berarti orang yang memiliki pengetahuan, al-mudarris yang bermakna orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran.
Menurut Munir Muursi untuk menjadi seorang guru dibutuhkan beberapa persyaratan diantaranya :
(1) umur harus sudah dewasa
(2) harus sehat jasmani dan rohani,
(3) menguasai bidang ilmu yang diajarkan dan menguasai ilmu mendidik
(4) harus berkepribadian muslim.

Menurut Al-Abrasyi orang yang menjadi guru harus mempunyai sifat-sifat yaitu: Zuhud: tidak mengutamakan materi, mengajar dilakukan hanya mencari riidha Allah, Bersih tubuhnya: tampilan lahiriahnya menyenangkan, Bersih jiwanya, Tidak ria, Tidak memendam rasa dengki dan iri hati, Tidak menyenang permusuhan, Ihlas dalam melaksanakan tugas, Sesuai perkataan dan perbuatan, Tidak malu mengakui ketidaktahuan, Bijaksana, Tegas dalam perkataan dan perbuatan tetapi tidak kasar, Rendah hati/tidak sombong, Lemah lembut, Sabar, Berkepribadian, Pemaaf, Tidak merasa rendah diri, Memahami karakter murid,mencakup pembawaan, kebiasaan, perasaan, dan pemikiran.
Guru adalah pendidik professional yang harus melaksanakan tugasnya secara professional, termasuk uru di madrasah, karena tugas guru madrasah sangat kompleks dan tidak mudah, karena guru madrasah adalah manusa yang memiliki tugas untuk memanusiakan manusia.
E.     Murid dalam Pendidikan Islam
Dalam pendidikan Islam setiap anak atau murid itu dilahirkan dengan membawa fitrah, yakni suatu kecenderungan bawaan alamiah terhadap yang baik, dan ketundukan pada Tuhan Yang Maha Esa.Fitrah juga di fahami sebagai suatu kemampuan dasar berkembang manusia. Menurut teori fitrah, didalam diri manusia itu terkandung berbagai komponen psikologis yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia.
Murid adalah subjek utama dalam keseluruhan sistem pendidikan islam kapanpun dan dimanapun.
Murid dalam pandangan psikologi adalah manusia yang memiliki potensi, bukan sebaiknya manusia yang tidak memiliki apa-apa atau tidak tau apa-apa.
Beriku definisi murid menurut beberapa ahli :
1.      Menurut Daniel Goleman, manusia itu memiliki kecerdasan emosional yang mana menurutnya kecerdasan emosional sangat menentekan keberhasilan seseorang.
2.      Sedangkan menurut Danah Zohar dan Lan Marshal manusia (murid) memiliki kecerdasan spiritual.
3.      Menurut Howard Gardner murid itu memiliki 8 jenis kecerdasan yang disebutnya sebagai multliple intelligence.
Murid adalah organism yang sedang berkembang dan sama sekali bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini.
Menurut Iman Al-Ghazali yang di kutip oleh Fathiyah Hasan Sulaiman bahwa untuk dapat berhasil dalam menempuh peendidikannya, hendaknya setiap murid memiliki 10 sifat utama.
Menurut Iman Zarnudji dalam kitabnya Ta’limul al-Muta’alim al-Thariq al-Ta’alum, seorang murid apabila ingin berhasil dalam memperoleh  ilmu maka ia harus memenuhi 6 faktor yaitu: Kecerdasan, cinta kepada ilmu, kesabaran, petunjuk guru, masa yang lama, selain itu seorang murid jika ingin berhasil maka ia harus bersungguh-sungguh. Menurutnya kunci dari keberhasilan seorang murid adalah dengan belajar secara sungguh-sungguh.
F.     Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan Islam
            Dalam proses pembelajaran dibutuhkan 5 komponen utama yaitu:
(1) Tujuan pembelajaran
(2) materi atau bahan pembelajaran,
(3) metode atau strategi pembelajaran
(4) media atau alat bantu pembelajaran, dan
(5) penilaian atau evaluasi penilaian.

Adapun suatu pembelajaran dikatakan memiliki keunggulan atau efektif apabila memenuhi paling tidak 3 persyaratan yaitu:
(1)dapat melayani semua anak didik
(2) semua anak didik mendapatkan pengalaman belajar yang semaksimal mungkin
(3) walaupun semua anak didik mendapatkan pengalaman maksimal, trtapi prosesnya sangat berfariasi tergantung pada tingkat kemampuan dan karakteristik anak didik yang bersangkutan.
            Para praktisi pembelajaran dan para ahli pendidikan /psikologi belajar, telah merekomendasikan beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu dan keunggulan atau efektifitas pembelajaran, diantaranya:

(1) Web Based Learning (WBL)
(2) Contextual Teaching and Learning (CTL),
(3) Quantum Teaching and Learning (QTL),
(4) Accelerated Learning (AL),
(5) Student Centered Learning (SCL),
(6) Joyful Learning(JL),
(7) Active Learning (AL),
(8) Cooperatif Learning (CL),
(9) Multiple Intelligences Based Teaching and Learning (MIBTL),
(10) Problem Solfing Based Learning (PSBL),
(11) Inquiry Based Learning (IBL), dll sebagainya.

            Tujuan utama dari sebuah proses pembelajaran adalah membelajarkan anak didik, oleh karenanya keberhasilan prosses pembelajaran tidak diukur dari sejauh mana anak didik menguasai materi pelajaran, akan tetapi diukur dari sejauh mana siswa telah melakukan proses belajar, untuk mengubah tingkah laku anak didik sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
G.    Kurikulum Pendidikan Islam
Secara Etimologis, kurikulum diambil dari bahasa Latin yang berarti: berlari cepat, menjalani suatu pengalaman yang tanpa henti, gelanggang dan lain-lain.dalam bahasa Yunani berarti: jarak yang harus ditempuh. Secara Terminologis, Saylor dan Alexander dalam bukunya Curriculum for Better Teaching and Learning memberikan batasan kurikulum yaitu: Kurikulum merupakan segala usaha sekolah untuk mempengaruhisiswa dalam belajar baik dilaksanakan di dalam ruang kelas, dihalaman sekolah, maupun diluar sekolah.
Hilda Taba mendefinisikan kurikulum dengan lebih cenderung pada metodologi, yaitu: cara mempersiapkan manusia(didik) untuk berpartisipasi  sebagai anggota sebagai anggota yang produktif dari sudut budaya.
Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, kurikulum adalah sebagai jalan terang yang dilalui pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka.
Syaibani, kurikulum merupakan upaya pengembangan manusia dalam hal ini anak didik dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotorik.
Kurikulum mempunyai 4 unsur atau aspek utama yaitu:
(1) Tujuan-tujuan yang dicapai oleh pendidikan itu
(2) Pengetahuan, informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas, dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu,
(3) Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan membawa mereka kea rah yang dikehendaki oleh kurikulum
(4) Metode dan cara penilaian yang digunakan untuk mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan oleh kurikulum.

a.      Komponen kurikulum
Kurikulum mengandung beberapa komponen yaitu: Tujuan, isi, metode atau proses belajar mengajar, dan evaluasi
Kurikulum menurut Al-Syahroni adalah termasuk aspek utama dalam proses pendidikan yang mendapat kecaman keras dan ditunjukkan cacat cela dan aspek-aspek kekurangannya, dan ingin dikembangkan, diperhatikan, diperbaiki dan, diubah konsepnya.
b.      Tujuan kurikulum
Tujuan kurikulum pada hakekatnya adalah tujuan setiap program pendidikan yang akan diberikan kepada anak didik.
Rumusan tujuan kurikulum harus terlebih dahulu ditetapkan sebelum menyusun isi kurikulum, metode, dan evaluasi kurikulum. Tujuan berfungsi menentukan arah dan corak kegiatan pendidikan, Tujuan akan menjadi indicator dari keberhasilan pelaksanaan pendidikan, tujuan menjadi pegangan dalam setiap usaha dan tindakan dari para pelaksana pendidikan.
c.       Isi Kurikulum
Isi atau materi kurikulum (pendidikan)ini dalam disiplin ilmu pendidikan modern meliputi 3 jenis yaitu : ilmu pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan nilai-nilai (afektif)
Kandungan atau isi kurikulum dalam pendidikan Islam perlu dipadukan karena pertama, diharapkan melalui kurikulum terpadu akan keluar manusia-manusia yang mempunyai pengamatan yang terpadu mengenai realitas, kedua, ahi-ahli psikologi berpendapat bahwa pemaduan kurikulum dapat menghasilkan manusia yang memiliki personality yang terpadu ,ketiga, dari suatu sudut pandang sosiologi diharapkan bahwa melalui kandungan kurikulum yang terpadu itu akan timbul perpaduan dikalangan masyarakat baik secara vertical ataupun horizontal.
d.      Metode Pembelajaran
Metode pengajaran adalah suatu cara menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam kurikulum.
Metode adalah cara , yang didalam fungsinya merupakan alat mencapai suatu tujuan. Makin baik metode yang di gunakan semakin efektif pula pencapaian tujuan.
Metode dalam penerapannya dipengaruhi oleh banyak factor misalnya:murid atau pelajar, tujuan, situasi, fasilitas, dan guru atau pengajar.
e.       Evaluasi Pembelajaran
Kegiatan evaluasi sangat penting untuk mengatur sejauh mana keberhasilan siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar.

Yang perlu diperhatikan dengan evaluasi dalam pendidikan islam adalah karena tujuan pendidikan memiliki keistimewaan untuk menyembah dan berbakti kepada Allah sepanjang hayat. Maka criteria penilaian juga harus berlainan dengan pendidikan dari falsafah-falsafah lain. Penilaian dalam pendidikan muslim menurutnya, tidak semestinya bersifat materialistik, artinya ganjaran materi jangan terlalu diutamakan kalaupun dipergunakan harus ditunjukkan bahwa hanyalah sebagai alat bukan tujuan.


Sumber        : Buku Filsafat Pendidikan Islam
Pengarang    : Dr. Mahfud Junaedi,M.Ag
Deskripsi     : Ringkasan Filsafat Pendidikan Islam
Share:

Filsafat Pendidikan Islam Sebagai Ilmu

Filsafat Pendidikan Islam Sebagai Ilmu

a.      Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Untuk memahamai filsafat pendidikan terdapat 3 sudut pandang yaitu :

1.filsafat pendidikan islama adalah filsafat pendidikan yang berlandaskan islam
2. filsafat pendidikan islama adalah filsafat islama tentang pendidikan
3.filsafat pendidikan islam  adalah filsafat mengenai pendidikan islam.

Pertama , filsafat pendidikan yang berlandaskan islam , yaitu analisis filosofi pendidikan yang di dasarkan pada sumber utama ajaran islam yaitu al – quran dan al- hadist.
Kedua, filsafat islam entang pendidikan . dalam pengertian kedua ini filsafat pendidikan islam adalah pemikiran pemikiran para filsuf muslim tentang pendidikan , yaitu berupa aktifitas aktifitas manusia yang berupa pengembangan potensi diri dalam hubungannya dengan tuhan , alam dan diri manusia sendiri.
Ketiga, filsafat tentang pendidikan islam . analisis filosofis tentang permasalahan permasalahan pendidikan islam , baik permasalahan yang bersifat  teoritis maupun praktis.

b.      Objek Kajian Filsafat Pendidikan Islam
Mempelajari filsafat pendidikan berarti mmasuki area pikir yang mendasar , sistematis , logis dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan , yang tidak hanya di latar belakangi oleh ilmu pengetahuan agama islam saja , tetapi menuntut kepada kita untuk mempelajari ilmu – ilmu lain yang relevan .
Dari segi objek , setiap disiplin ilmu selalu di bedakan menjadi dua objek yaitu objek  materia dan objek forma . objek materia merupaka bahan baku utama dari ilmu pengetahuan yang bersifat lebih umum dan berdimensi makro . sedangkan objek forma adalah sesuatu yang menjadi fokus kajian atau sudut pandang tertentu dari suatu hal , yang bersifat lebih spesifik dan berdimensi mikro .
c.       Metode Studi Filsafat Pendidikan Islam
Selanjutnya dalam melakukan analisis filsafat pendidikan islam , menggunakan beberapa metode di antarannya :
1. Metode pemahaman adalah suatu metode untuk memahami objek penelitian melalui insting dan empati dalam menangkap dan memahami makna budaya manusia , nilai nilai , simbol simbol , pemikiran – pemikiran , serta kelakuan manusia yang memiliki sifat ganda.
2. Metode interprestasi adalah memperantarai pesan secara eksplisit dan implisit termuat dalam realitas.
3. Metode hermeneutik bertujuan untuk mencari dan menemukan makna yang terkandung dalam objek peneitian yang berupa fenomenal kehidupan manusia , melalui pemahaman dan interprestasi .
4. Metode induktif – deduktif  , metode ini memiliki 5 siklus tahapan yaitu observasi , induksi , deduksi , kajian dan evaluasi .
5. Metode komparatif ,yaitu memkasa dengan tegas menetukan kesamaan dan perbedaan , sehingga objek dapat di pahami dengan semakin murni .
6. Metode heuristik , metode untuk menemukan jalan baru secara ilmiah untuk memcahkan masalah .

d.      Sumber Sumber Filsafat Pendidikan Islam
Secara ilmiah sumber umum di kemukakan bahwa suber sumber filsafat pendidikan islam adalah :
1.      Wahyu Yaitu Al – Quran Al – Karim.
2.      Al-Hadist.
3.      Ijtihad Atau Hasil Pemikiran para sahabat rasul dan pemikiran muslim klasik ataupun moderen.
4.      Pemikiran Pemikiran Pendidikan Barat.



1.      AL – QUR’AN SEBAGAI SUMBER NORMATIF PERTAMA
Dalam  hubungannya dengan ilmu pengetahuan , al-qur’an mendorong manusia untuk mempergunakan akal pikirannya serta menambah ilmu pengetahuannya semaksimal mungkin . kemudian juga menjadikan observasi atas alam semesta sebagaimana alat untuk kepercayaan kepada setiap penemuan baru atau teori ilmiah . sehingga mereka dapat menemukan dalilnnya dalam al – qur’an untuk di berikan atau di bantahkan. Makadari itu al qur’an  menjadi sumber aktualisasi tertinggi , kebenaran integratif ilahiyah.

2.      IJTIHAD PARA SAHABAT DAN PEMIKIR MUSLIM
Bagi sebagian besar kaum muslim , masa khulafa ‘ar-rasyidin di anggap sebagai masa yang ideal dan perlu di contoh oleh setiap penguasa negara .sesungguhnya telah ada pada khulafa’ur rasyidin pesan – pesan yang banyak sekali yang bersumberkan dalam al-quran dan sunah nabi saw , di antara pesan pesannya adalah :
1. himbauan untuk bertakwa kepada allah swt
2. selalu di siplin mengerjakan amal amal yang di kehendaki allah swt pada siang hari.
3. selalu di siplin mengerjakan amal - amal  yang di kehendaki allah swt pada malam hari.
4. selalu disiplin mengerjakan hal hal yang wajib dan sunnah
5. selalu disiplin mengerjakan amal amal ahli surga.
6. menjauhi amal amal ahli neraka.
7. menghindari dari  kesenangan nafsu.

3.      PARA PEMIKIR BARAT
Saat ini harus di akui bahwa pendidikan islam baik pada dataran teoristik maupun praktis tidsk lepas dari sitem pendidikan barat maupun kebudayaaan barat . ada sebuah keniscayaan it is a must , dan keharusan zaman , umat islam saat ini harus banyak belajar kepada para pemikir/filsuf barat , jika memang umat islam igin berubah dan maju , untuk selanjutnya menguasai peradaban barat barat untuk membangun peradapan baru di dunia islam .penguasa pemikiran barat sangat di perlukan jika umat islam ingin ber naturalisasi pemikiran dan peradaban barat di dunia islam . sebagaimana para filsuf muslim melakukan naturalisasi pemikiran yunani , dalam peradaban islam .


Sumber        : Buku Filsafat Pendidikan Islam
Pengarang    : Dr. Mahfud Junaedi,M.Ag
Deskripsi     : Ringkasan Filsafat Pendidikan Islam
Share:

WELCOME

My Profil



Nama Saya : Lulut Dwi Ratna
I am Study in Universitas Islam Negeri Walisongo
My Instagram : @lulutdwiratna
My Channel Youtube lulutdwiratna Please Like Comment and Subscribe.

Followers

About Me

My photo
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Selamat datang diBlog saya, temukan informasi menarik yang anda butuhkan, hanya disini.

Wikipedia

Search results